 | Welcome to My Little Ocean... | Sep 24, 2007 |
Ocean is a wonderful thing... It's deep and wide... It takes you drowning there to see the secrets inside it... My life is just a little ocean in this wide world... But, still, you can find what's inside that gives you benefits... I hope you'll find what you're looking for and get at least one benefit... Although it's just as small as a seed... Beberapa hari ini aku terus bertanya kepada para seniorku, yang sudah lebih banyak memakan asam-garam dalam mengajar di sini: Hari gini, detik-detik menjelang UN sudah sangat minim, tapi ternyata nggak sedikit siswa yang kemampuannya masih belum memenuhi syarat kelulusan, bahkan nol besar, lalu mesti gimana dong?
Sebagai seorang pengajar, jujur saja, aku tentu tertolong lahir-batin dengan siswa yang kooperatif: cepat tangkap dan bersikap baik. Kalau hari-hari menjelang UN begini, di saat siswa dan pengajar sudah sama-sama jenuh, alangkah nikmatnya mengajar di kelas yang siswa-siswinya sudah mandiri, sudah bisa mengerjakan soal sendiri tanpa perlu banyak penjelasan.
Nyatanya?
Banyak yang masih sangat minim kemampuannya. Padahal UN udah bisa dihitung dalam satuan jam, hari-hari menujunya terus menipis. Mereka harus lulus, tapi sekarang sudah bukan waktunya belajar ekstra keras dari awal, mengisi kekosongan yang menganga lebar di dalam benak mereka. Dan semestinya memang sudah bukan "mengisi kekosongan" lagi, karena hampir setahun sudah bimbel kami mengisi kekosongan tersebut, sudah dari jauh-jauh hari sejak awal tahun ajaran ini. Itu hanya untuk siswa kelas XII-nya, kalau mereka ikut bimbel dari zaman kelas X dan kelas XI SMA ya pasti proses "mengisi kekosongannya" sudah jauh lebih lama lagi dari setahun.
Kalau mereka dibiarkan dengan kemampuan terbatas dan hasil yang "belum lulus" itu, sebagai seorang pengajar, itu adalah kegagalan. Persoalan itu adalah sesuatu yang sudah seharusnya kupecahkan sebagai seorang pengajar. Gak mungkin aku bersikap "bodo amat, siapa suruh hari gini masih ga bisa, ke mana aja lo". Itu kan gak solutif. Aku dibayar untuk melayani, menyelesaikan persoalan, baik yang mudah maupun yang rumit dan miris seperti ini.
Oke, jika mau flashback, nasib siswa seperti itu jelas menyedihkan. Biasanya itu jadi bahan nasihat yang sangat bagus untuk siswa-siswi kelas X dan XI yang juga kupegang, supaya mereka gak main-main kalau belajar, baik di sekolah maupun di kelas. Ya kalau di sekolah belajarnya belum optimal karena mungkin sedang banyak kegiatan (biasanya siswa kelas X dan XI masih aktif di organisasi sekolah), maka bayarlah itu dengan serius di bimbel. Kan memang itu tujuannya: membantu siswa-siswi belajar. Kalau di sekolah sudah sangat cukup, sehingga di bimbel malah jadinya capek berat dan gak konsen, cenderung pengen main dan mengganggu teman lain yang mau belajar, sok atuh pulang aja.... Bukan maksudnya ngusir, tapi ini demi kebaikan bersama kok. Kami tidak akan merasa rugi, malah itulah yang mencegah siswa-siswi merugi. Udah ngeluarin duit mahal-mahal untuk bimbel, tapi ternyata gak berguna, ya jangan diteruskan. Simpan duitmu untuk hal lain yang lebih bermanfaat... ^_^
Tapi sekarang, semua hal miris itu telah terjadi di depan mata. Sudah menjadi masalah, so, menyesali yang telah berlalu bukan sesuatu yang akan menyelesaikan itu. Sebagai pengajar kelas XII, aku harus menghadapi dan menyelesaikan persoalan itu, membuat mereka bisa lulus, dengan segala cara halal yang kubisa, supaya mereka lulus (lulus aja deh!). Dan, itulah yang kutanyakan kepada mereka.
Lumayan, alhamdulillaah, udah dapet solusinya. Usaha berikutnya adalah memohon kelapangan hati kepada Allah agar aku gak gampang BT dan esmosi berat ketika menghadapi siswa-siswi semacam itu.
Semangat!!  | Cukup! | Apr 10, '12 2:55 AM for everyone |
Kesal sekesal-kesal yang bisa kurasakan.
Tadinya, aku berpikir untuk berusaha agar hubungan kami membaik seterusnya, sampai skripsiku selesai saja, cukup lah. Toh pada akhirnya dia kan meninggalkan aku, seterusnya. Tanpa bermaksud mendahului takdir Allah, aku memberi sugesti pada diriku, bahwa dia memang hanya ingin membantu dengan memotivasi agar skripsiku segera selesai. Baginya, arti seorang aku hanya sampai itu, hadiah untuknya hanyalah agar aku lulus bareng dia. Selebihnya? Tidak, tidak ada yang lebih. Karena memang tidak pernah, dan tidak akan pernah. Tanpa bermaksud bermain dengan prasangka, aku lebih baik meyakinkan diriku akan hal itu.
Setelah skripsiku selesai, dia akan pergi. Dia akan meninggalkan aku, membuka lembaran baru kehidupannya, menggapai mimpi-mimpinya. Dan dia tidak pernah merencanakan agar aku menjadi bagian dari impiannya itu. "Saya sayang kamu, sama seperti yang lain juga."
Cukuplah kata-kata itu, tidak ada hal-hal lain. Tidak ada hal yang harus aku konfirmasi, tidak perlu.
Dia terlalu bersih untuk bermain dengan seorang berlumpur seperti aku. Dia seperti seorang pangeran dalam sebuah istana suci, sementara aku cuma gelandangan dari tempat kumuh. Orang bijaksana seperti dia tentu ingin seorang gelandangan seperti aku memiliki masa depan yang lebih baik. Itulah motifnya mengulurkan tangan, memberikan perhatian, berbagi, membawaku ke dalam kehidupannya. Kenapa dia merasa 'aku' harus memiliki kehidupan yang lebih baik?
Bukan, bukan karena dia sayang kepadaku, bukan karena aku spesial baginya, apa lagi berpikir dia cinta sama aku. Baginya semua orang spesial, aku pun tidak lebih spesial daripada yang lain. Dia hanya melakukan apa yang digemarinya, yaitu berbuat baik kepada semua orang, siapa pun dan darimana pun. Jadi, yang dia cintai adalah kebaikan yang mulia, bukan aku.
Bayang-bayang yang diperlihatkan orang-orang, bahwa dia bersikap tidak biasa dan menspesialkan aku, ternyata itu hanya halusinasi manusia. Biasa lah, jika seorang pria berbuat luar biasa baik dan mengakui kedekatannya dengan seorang wanita, pastilah dianggap pria itu ada rasa khusus terhadap sang wanita. Nyatanya? Nggak begitu, minimal untuk dia seorang. Nggak semua orang seperti itu lah. Banyak kok, yang bahkan super baik, jauh lebih baik daripada itu, tapi sungguh tidak ada maksud apa-apa. Pedekate? Nggak, sama sekali jauh dari niat itu.
Sayang sekali, aku sudah terperangkap dengan prasangka dan perasaan, bahwa dia mencintai aku, sehingga aku yang juga mencintainya tidak mampu melakukan apa-apa selain menikmati perasaan itu. Suatu rasa yang indah dan menentramkan bahwa ada seseorang yang mencintaiku, dan dia berada di sisiku. Memberi perhatian, memotivasi, menemani. Indah nian.....
Tapi, ternyata selama ini, aku hanya hidup di dalam bayang-bayang semu. Aku menikmati khayalan dan asumsiku sendiri. Aku bernyaman-nyaman dalam halusinasi manusia. Sekarang, betapa sulitnya mempercayai bahwa dia ada di sisiku, menemaniku. Hal terakhir yang masuk akal bagiku adalah kenyataan bahwa dia mencintaiku.
Dia membuatku terlanjur merasa dicintai, padahal tidak. Dia menunjukkan bahwa dia peduli, padahal tidak. Dia terlihat menspesialkanku, padahal tidak. Dia, betapa ingin aku menyalahkan dia atas segala rasa yang telah dia buat aku merasakannya, padahal tidak ada. Dia harus bertanggung jawab terhadap perasaanku yang telah dia tumbuhkan. Atau minimal, dia telah membiarkan rasa ini tumbuh atas pengetahuannya, dan dia membiarkan itu. Jika itu salah, kenapa dia biarkan aku memelihara perasaan itu. Kenapa dia biarkan aku hidup dalam kesalahan sekian lama.
Dia hanya mengatakan padaku, "Aku menyimpan kata-katamu waktu itu."
Dan, aku pun menyimpan kata-katanya, "Aku menyayangimu, ya, sama seperti yang lainnya." Pukul 8.25 waktu jam tanganku, yang kelebihan sekitar 20 menit.. Lagi di Al-Azhar Pusat, mau ngajar sesi khusus kimia, tapi siswa kelas IPA sampe skrg baru 5 orang... Hmm...
Agendaku tiap Sabtu sebenernya indah banget... Murni jalan-jalan dan relaksasi nih.. (Siswanya nambah 1).. Ka Happizh nge-set jadwalku di 2 Al-Azhar, AA1 (Pusat) dan AA4 (Kemang Pratama). Kalo dari AA1, nunggu jam3 sore mungkin bisa sekalian hang out ke Plaza Semanggi (duduk-duduk laptopan atau baca buku di Gramedia, spending time looking for some good news). Kalau dari AA4, nunggu jam3 bisa pulang dulu ke rumah (kalo selesai jam10), atau main di Mall Metropolitan.. (Ga ada apa2 di sono kayaknya)
Well,, siswanya dah lumayan nih.. Mudah2an gak lama deh....... Aamin.. Ehemm, aku lagi nunggu hasil belajar docking kilat hari ini, entah hasilnya bisa keluar atau tidak, alhamdulillah, udah ngerti langkah-langkahnya.  Alhamdulillah, hari ini penuh dengan lebih banyak hal bermanfaat daripada hari-hari sebelumnya. Karena sejak pagi tadi sudah turut bersama para penghuni bumi yang lain, bertebaran di muka bumi mencari rizki. Yap, kemarin seorang Ibu meminta kesediaanku untuk mengajari putranya pelajaran kimia, privat. Putranya seorang siswa SMA Taruna Nusantara kelas X, yang sedang berlibur di Jakarta karena siswa kelas XII sedang Ujian Sekolah. Lokasi belajarnya di rumah beliau, dan alhamdulillah dekat sekali dari rumah (hampir nyesel tadi memutuskan ngojek dari pasar Kranji, tapi tak perlu lah sesal itu). Ibu ini bisa menghubungiku dapet nomor HP dari BTA SMP (sudah kuduga, karena anaknya kelas X dan bukan anak BTA di Jakarta pastinya, apa lagi media kontaknya dengan BTA, kalau bukan pernah jadi siswa di BTA SMP). Alhamdulillah, Allah Maha Pemurah dan tidak mengingkari janji-Nya, karena Dia telah memberi ganti beberapa kali lipat dari harta yang pernah kukeluarkan, dan Dia memberiku di akhir bulan ini, sehingga aku tidak defisit bulan ini. Dan, siapa pun yang memberikan nomor ini (tampaknya Pak Bosku Kak Happizh nih, karena Ibu itu bilang disuruh kontak Kak Pupu atau Bang Amril), semoga Allah membalas kebaikan yang lebih baginya karena telah membuka peluang rizki bagiku. Semoga ilmu yang kuberikan kepada Rayyan, siswa itu, bisa jadi ilmu yang bermanfaat bagi dirinya di masa kini maupun di masa Depan. Aamin. Satu lagi hal yang harus disyukuri dari privat ini adalah aku kembali mendapat keterangan tentang bagaimana siswa yang bersekolah di SMA Taruna Nusantara. Aku dulu sempat berpikir akan melanjutkan SMA ke sana, tapi tidak ingat persis apa yang membuatku tidak jadi ke sana. Dan, setelah mendengarkan cerita Rayyan dan Ibunya, aku mungkin bisa menjadikan SMA tersebut sebagai sarana pendidikan putraku kelak, ya. Sekolahnya benar-benar membentuk kedisiplinan, baik bagi pembentukan karakter seorang anak laki-laki. Tapi, kalau ada, aku prefer menyekolahkan putra-putriku di suatu sekolah yang syumul. Sekolah yang tidak hanya mengembangkan keunggulan akademik dan intelektualitas bagi siswanya, tetapi juga yang mendidik dengan Islam dan membentuk kedisiplinan serta manajemen diri. Ya, gabungan dari keunggulan Taruna Nusantara, Psantren, dan sistem unggulan seperti SMAN 8 Jakarta atau MH Thamrin (yang siswa-siswinya memang dipersiapkan untuk olimpiade). Hmm, di mana ya kira-kira.... Anyway, docking-nya udah selesai, dan Pak Arry baru dateng nih..... Tapi masih mau lanjut nulis. Alhamdulillah juga, karena kemarin Allah telah memberikan kekuatan padaku untuk bangkit menyelesaikan skripsi. Hari ini, belajar docking merupakan salah satu langkah kecil yang penting bagi keberlangsungan skripsiku ke depan. Ya, karena dari semua hal memusingkan dalam skripsi ini, salah satu hal yang menantangku adalah kenyataan bahwa aku hanya memahami aspek-aspek kimianya, sementara itu software adalah sesuatu yang terlalu asing untukku, meskipun aku gak terlalu gaptek. Kemarin, akhirnya aku coba menghubungi Kak Rezi untuk mengajarkan aku bagaimana cara mengakrabi software-software yang bahasanya asing itu. Alhamdulillah, Allah ringankan langkahku untuk berangkat dan belajar, Allah mudahkan aku untuk mempelajarinya, dan Allah mudahkan aku menghadapi pembimbing pertamaku, Pak Arry.... Ternyata, sedikit progress berupa belajar docking dan literatur-literatur serta ide yang sudah kubaca, merupakan satu kemajuan penting yang memudahkanku menghadapi Pak Arry.  Alhamdulillah, tinggal memperbaiki hubungan dengan Prof. Diana nih. Alhamdulillah, hari ini aku juga, finally, dateng ketemu temen-temen 2006 lain di Perpus Pusat baru. Alhamdulillah, membuat mereka (atau minimal satu orang) senang karena kehadiranku, alhamdulillah akhirnya ada mampu menyempatkan diri main-main ke perpus mewah itu. Alhamdulillah juga, sambil jalan menuju perpus, aku menyempatkan registrasi laptopku, jadi sekarang dah bisa hotspot-an di lingkungan UI.  (ckckck, brapa taun sih jadi mahasiswa, baru hari gini laptop bisa hotspot-an di UI) Okay, diskusi dengan Pak Arry dan belajar hari ini kita cukupkan dulu. Sayang hari ini gak jadi ketemu sama RM, somehow merasa waktunya gak tepat aja sih. Maybe Senin. Mudah-mudahan bisa dapet nomer kontaknya Adri juga. Alhamdulillah..... “Dia bahkan pake acara salah kira segala!” Kembali teringat kejadian itu dan seketika atmosfer duniaku berubah jadi sedih dan sendu. Sudah lama rasanya ingatan itu mengendap dalam benakku, tak lagi terangkat dan terbawa ke alam sadarku. Seolah aku menganulirnya. Tapi malam ini, dia muncul lagi, menjadi kesadaran baru yang menyentakku dan membuatku begitu sedih.. Sedih, bukan hanya karena bayang-bayang kasih tak sampai, yang hingga sekarang masih kupanjatkan do’a agar tidak demikian akhirnya. Aku sedih, menangisi perasaanku sendiri. Menangisi kenapa bisa-bisanya terulang kembali, aku begitu menyimpan perasaan yang kuat pada seseorang yang bahkan tidak menganggap aku apa-apa. Entah harus berapa kali jatuh lagi. Sakit kan rasanya.
Kenapa ada rasa itu, aku bahkan bertanya kepada Rabb-ku sendiri. Kenapa ya Rabb, aku harus mencintai dia yang bahkan tidak mencintaiku. Kenapa harus menginginkan dia yang bahkan tidak menginginkanku. Mengapa aku rela dibuai dengan pandangan mata kami satu sama lain, merasa dia mungkin ada rasa denganku, padahal yang terjadi di hadapan mataku adalah dia mengkhususkan orang lain, membuka diri kepada orang lain. Dan kenapa harus kejadian lagi. Patah hati itu menyakitkan sekali, dan sekarang hal yang menyakitkan itu berpotensi untuk terulang lagi. Aku tidak mau….. Ya, aku harus berprasangka baik pada-Nya. Akan tetapi, persepsi baik yang ada dalam pikiranku bisa jadi berbeda dengan-Nya. Aku hanya mampu meyakini bahwa apa yang Dia kehendaki adalah baik, selalu baik. Apapun jadinya nanti aku yakin akan bisa terima semuanya, karena aku percaya bahwa Dia selalu mampu menjadikan aku ridha terhadap segala ketentuan-Nya.
Bercucuran air mata kah nantinya? Mungkin memang itu yang baik bagi-Nya. Jika ternyata berakhir di pelaminan pun, maka berarti itulah yang baik bagi-Nya. Aku hanya bisa berdo’a. Atau, mungkin aku hanya menjadi rapuh. Rapuh akan rasa ini. Rapuh karena pernah terluka begitu dalam….? Kejadian hampir 2 tahun lalu, kurasa aku sudah mampu mengatasinya. Tetapi agaknya hal itu masih meninggalkan bekas. Bekas luka yang masih terasa sakit. Dan rasa sakit itu begitu menghantui, hingga aku selalu merasa takut jika itu akan terulang. Bahkan, ketika aku mulai bangun dan kembali melangkah, aku seperti bangun dengan ketakutan. Aku sibuk mengantisipasi agar hal itu jangan sampai terulang lagi. Ya, meski semua berakhir dengan indah dan baik-baik saja, tetap itu terasa begitu menyakitkan. Mungkin aku memang hanya dihantui ketakutan. Mungkin saja bayang-bayang patah hati itu memang hanya bayang-bayang yang tak pernah nyata, karena aku tidak pernah tau kebenarannya. Atau sudah terlanjur dibutakan dengan ketakutan akan terulangnya sakit yang pernah kurasa dulu. Jika selama ini aku merasa bukan siapa-siapa baginya, mungkin sebenarnya tidak demikian, karena aku sendiri memahami, bahwa kuatnya rasa tidak linear dengan seringnya interaksi. Dan mudah-mudahan ini bukan hiburan belaka.
Sekarang, akhirnya aku paham, kenapa para aktivis dakwah menghindari bahkan mungkin yang paling ekstrim mencela habis-habisan orang-orang yang mencintai dan terjatuh, alih-alih berniat dan berusaha membangunnya. Aku pahami, kenapa para murabbi/ah sejak zaman SMA tidak menyenangi binaannya disibukkan dengan rasa ini. Aku pahami, kenapa rasa yang fitrah ini mereka anggap sebagai virus. Karena, mencintai dan terjatuh ke dalam cinta, akan menyita hati dan pikiran kita, sehingga hanya menyisakan sedikit ruang untuk produktivitas dan cita-cita masa depan diri serta ummat. Kita akan terbuai dalam panjangnya angan-angan indah dengan si dia, atau terperangkap rasa penasaran tak berkesudahan karena teka-teki prasangka yang hanya Allah tahu jawabnya, atau menangis dan kesakitan tak terperi ketika cinta itu tak berbalas.
Jika Anda belum pernah merasakannya, ketahuilah, begitu sakit rasanya ketika cinta tak berbalas. Jangankan kenyataannya, bayang-bayangnya pun begitu menyakitkan. Tetapi sayangnya, patah hati adalah resiko dari mencintai. Dia beriringan dengan nuansa mencintai. Dan cinta tidak hanya beriringan dengan luka patah hati, tetapi juga kebahagiaan. Epilog: Aku hanya bisa berdo’a, agar patah hati tidak lagi ada dalam kamus hidupku. Aku hanya bisa berdo’a agar Dia berkenan satukan kami dalam rahmat dan kasih sayang-Nya, pertemukan kami atas dasar cinta kepada-Nya, jadikan kami kufu’ jika sebelumnya tidak, jadikan kami baik untuk satu sama lain jika sebelumnya tidak, berikan barakah dalam rumah tangga kami, dan kekalkan cinta kami dunia-akhirat. Rasa ini datang, semata adalah ujian dari-Nya untukku. Dia hanya ingin aku kembali kepada-Nya, kembali mengingat-Nya. Agar kujadikan ini sebagai sarana agar aku bermunajat kepada-Nya. Agar aku yakin seutuhnya bahwa hanya Dia yang kuasa, Tempatku Bersandar dan Berserah Diri. Agar aku sadari di mana kelemahanku, setelah sekian banyak pula Dia tunjukkan aku begitu kuat untuk hal-hal lain. Dan jika cinta ini adalah cita-cita yang harus dibangun, maka adalah tugasku juga memohon pada-Nya untuk bukakan jalan ikhtiar. Tugasku untuk berpikir dan berikhtiar dengan cara-Nya. Tugasku untuk membenarkan pondasinya: keikhlasan, bahwa ikhtiar bukanlah berarti harus mendapatkan apa yang diikhtiarkan, tetapi agar Allah menghitung amal dan kebaikan yang kulakukan dalam ikhtiar yang benar itu. Sesaat menuliskan ini, perasaanku perlahan membaik. Karena Dia yang membuatku merasa lebih baik. Alhamdulillaah…. (2 Januari 2012) Sekadar mengisi waktu luang, karena lagi libur shalat. Dititipin tas-tas, sekalian liat-liat batik SALAM yg ijo-ijo... Lucu... (n_n) Berulang kali menunda pekerjaan, hingga kemudian berulang kali pula menyadari bahwa aktivitas yang teratur itu sangat menyenangkan. Tidak membuat tertekan dan masing-masing aktivitas bisa optimal. Sering kali, kita sendiri yang buat diri kita terdesak sesuatu, hanya karena kata-kata semudah, "Ah, ntar lah!" atau, "Masih lama kok..." Tidak hanya terdesak oleh waktu, yang mengakibatkan kita terburu-buru, yang mungkin membuat pekerjaan tidak optimal, tetapi juga terdesak dalam hal keuangan, karena gak mampu prepare hanya karena kata-kata semudah, "Masih segini kok..." atau "Gak akan kekurangan kok, bisa lah....". Terdesak dan terhimpit itu capek kan? Udah ngerasain sendiri lah gimana capeknya diburu-buru kerjaan, gimana capeknya menahan himpitan ekonomi supaya bisa tetap beraktivitas. Kalau dari awal semuanya dibikin proporsional, gak akan ada capeknya beraktivitas. Semuanya indah kalo proporsional. Bayangkan, kalau kita bisa sisipkan urusan skripsi #ups di tengah-tengah luangnya waktu kita, sisipkan hafalan Qur'an dalam 24 jam waktu hidup dalam sehari, sisipkan pengurangan gunung cucian di sela-sela kesibukan kita. Gak akan ada ceritanya deg-degan sama deadline UP atau diuber-uber pembimbing. Gak akan ada ceritanya panik karena hafalan belum sampai target sementara plan untuk nikah makin dekat saja. Gak akan pusing mikirin besok harus pakai baju apa, atau pontang-panting cuci segunung pakaian karena besok mau keluar kota. So, proporsional itu indah kan...? Have nothing more to say, selain indahnya hidup kalau dibuat proporsional, termasuk beban pikiran.... :)
PS: Menyisipkan tulisan di tengah-tengah luangnya waktu, juga enak ternyata... Perlahan tapi pasti tulisan semakin banyak saja.. :)  | Kecewa | Jan 8, '12 5:48 AM for everyone |
Belakangan ini hatiku sesak dengan satu kata itu. Menurut orang, kecewa datang karena kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Misalnya, berharap hari ini akan keluar rumah untuk beberapa aktivitas, lalu ternyata ada halangan tak terduga. Atau, memperhitungkan akan hadir tepat waktu di kelas, ternyata keretanya terlambat luar biasa, sehingga harus cari alternatif kendaraan dan jadinya terlambat. Atau, menunggu seseorang yang janji akan hadir di waktu dan tempat yang ditentukan, lalu setelah menunggu dua jam tetap tidak ada tanda dia akan datang, tanpa kabar dan tidak bisa dihubungi. Atau, sekadar berharap sms direspon, nyatanya tidak ada respon sama sekali.
Hal biasa ya sebetulnya. Tapi kalau kejadian itu bertubi-tubi terjadi dalam jangka waktu yang singkat, seolah kecewa datang ketika hati belum pulih dari kecewa sebelumnya, rasa sakitnya jadi berlebih.
Hikmahnya, mungkin kita harus mampu mengantisipasi kondisi-kondisi tak terduga yang kontraproduktif dengan harapan dan rencana kita. Mungkin perlu ditegaskan terhadap diri sendiri, bahwa orang lain tidak ada yang bisa dipercaya. Bahwa janji yang diucapkan, 99% kemungkinannya batal. Bahwa harapan yang ingin dicapai, 99% kemungkinannya akan gagal. Bahwa tidak ada seorang pun hadir dalam hidup kita untuk menolong, melainkan hanya untuk bersenang-senang sesaat lalu menyusahkan kita.
Sugesti itu perlu, bukan untuk jadi manusia antisosial, karena kecewa terhadap orang lain memang konsekuensi dari suatu interaksi sosial. Bukan juga untuk jadi seseorang yang tidak optimis, karena kecewa terhadap kenyataan adalah juga resiko dari kehidupan, di mana kita tidak selalu mendapatkan yang kita inginkan. Sugesti itu perlu, agar kita selalu punya back up-plans. Supaya kita juga merancang cara alternatif untuk mencapai tujuan kita. Agar kita hidup dengan kaki dan tangan sendiri, tidak bergantung pada orang lain.
Dan mungkin, kecewa hanya sekadar ujian bagi kita, yang hikmahnya adalah agar tidak melakukan hal yang sama kepada orang lain. Atau, agar kita bisa meluaskan kesabaran kita menjadi tak terbatas, hingga sebongkah besar kekecewaan nantinya bukanlah terasa apa-apa. Barusan berkutat dengan kabel headset, dan alhamdulillah dapet pencerahan. Begini.... Ketika aku mencoba mengurai kusutnya kabel headset itu, pertama kali aku coba untuk mengurai dari 3 ujung yang ada: ujung di kuping kanan, ujung di kuping kiri, dan bagian yg dicolok ke hape. Kok rasanya ga selesai-selesai ya.. Padahal aku mencoba mengurainya dari 3 bagian sekaligus lhoo... O.o Lalu muncullah ide: Gimana kalo mengurainya dari satu ujung saja, dua lainnya dibiarkan, mungkin lebih cepet. Dan hasilnya?? Benar, Teman-teman... Yah, mungkin kamu sekalian udah paham hal ini jauh lebih dulu dari aku, trus merasa "Duh, ndeso banget deh nih orang, masa gitu aja baru ngerti hari gini...", tak apa tak apa... Memang kenyataannya baru ngerti sekarang kan. (n_n) Untuk hal ini, kata-kata "Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali" bisa digunakan (becoz ada kondisi di mana terlambat tidak lebih baik daripada tidak sama sekali, bahkan seringkali terlambat adalah tidak sama sekali *nyindir).. Dan lebih menyenangkan lagi karena ternyata aku belajar langsung dari pengalaman, meski tidak semua hal harus dialami untuk bisa belajar. So, akhirnya aku paham, bahwa ketika kita dihadapkan pada sekian masalah yang saling menjalin bagai kabel (aku gak bicara benang ya, soalnya kalo benang tautannya lebih ketat, ga janji deh bisa diurai, hihihihi) yang kusut, maka mengurainya kembali cukup dengan mengurai satu bagiannya. Satu bagian itu bisa yang mana pun, terserah aja mana yang bagi kita lebih mudah dan lebih bisa diurai duluan, atau sekadar ambil sembarang bagian juga oke.. Karena, masalah-masalah yang menjalin bagai kabel kusut, itu sebenarnya satu bagian saja, kadang punya dua ujung, kadang tiga, mungkin juga empat (siapa punya kuping tiga? Hoho). Tapi tetep aja kan mereka satu jalinan. Jadi ya, uraikan saja satu bagian, itu lebih cepat menguraikan semuanya daripada kita mencoba menguraikan semua bagian sekaligus.... Cool... Alhamdulillah... Mahabaik Rabb-ku menabur hikmah di sesuatu yang sesepele mengurai kabel kusut. Oya, satu lagi.. Sejak SMA, aku udah setuju dengan kata-kata bijak seorang teman, bahwa tidak ada satu peribahasa yang cocok dengan segala keadaan. Peribahasa itu metafora, perumpamaan dari satu kondisi dalam sekian rumitnya jalinan rantai kehidupan kita, satu keadaan dari luasnya ragam episode dan pengalaman manusia. Jadi, Temans, apa yang aku sampaikan di sini, semata adalah yang sesuai dengan kondisinya. Misal, kabel headset adalah satu kesatuan, jadi masalah yang memang saling terkait satu sama lain memang harus diselesaikan dari satu pangkal saja. Lain kalau masalahnya tidak saling terkait, maka penyelesaian paralel mungkin lebih baik.. (n_n) yoyoy (Kamar Mama&Papa, 23 Desember 2011)  | Flat | Jan 8, '12 5:45 AM for everyone |
Buka-buka inbox dan sent items di Nokia E71 merah ini. Di antara sedih ini, aku tidak tertarik dengan hampir segala hal. Everything seems flat. Ka Dilla dan Ka Aisyah ngobrol-ngobrol tapi aku sm sekali tidak tertarik menanggapi apapun, bhkn mendengarkan pun tidak tertarik. Kalau bukan karena etika mendengar yg baik, aku lbh suka pikiran dan telingaku gak di sini.
Aku prefer menyibukkan mata dan gerakan tubuh ke handphone. Bukan untuk online, karena online udah gak ada tujuannya selain nerima message WhatsApp grup, yg sering kali isinya juga malesin. Bukan untuk browsing, have no idea mau browsing apa. Otak serasa penuh tapi tumpul, jd gak bisa kerja dgn benar. Yaudah, hapus-hapus message aja....
Ternyata, dengan menghapus-hapus message itu, aku jadi punya kesempatan untuk melihat-lihat kembali message yang lama. Dan dengan itu, aku jd sadar, ada banyak orang kesayangan yang udah lama gak kuhubungi, gak kusapa, gak kuhujani dgn kasih sayang, krn mungkin belakangan ini sibuk berkasih sayang dengan yang lain.
Mmm, yaudah, abis ini sapa ah... Mudah-mudahan bisa mengurangi sedih dan hampa yang ada.... Aamin..
(171211) PS: Jumat ujian praktikum KFA kuantitatif, entah apa yg harus dilakukan untuk itu. Aku berharap tidak harus peduli, itu nggak membuatku excited sama sekali. Bismillaahirrahmaanirrahiim... I've just seen something rare. Aneh bener fenomena yang satu ini. Dan bikin gemes ya, karena bisa-bisanya bikin aku nulis selarut ini. Ini mungkin lanjutan dari cerita patah hati sebelumnya ya... Jadi gini, bahkan setelah kita patah hati, kita hanya bisa berharap gak akan lagi terulang kejadian itu. Tapi kalau terjadi lagi gimana? Ya bersyukur aja, berarti Allah ngasih remedial tuh untuk ujian patah hati, di mana kita nggak lulus ujian sebelumnya. Semoga penulis mampu begitu, aamin. Tapi sayangnya, sering kali wanita sungguh keterlaluan menyikapi 'kegagalan cinta' yang bertubi-tubi itu. Bahkan gak jarang sampai ada yang kehilangan akal sehat gara-gara itu. Prihatin saya, sungguh! Begini. Coba deh dipikir baik-baik ya... Kamu senang dicintai, butuh dicintai, dan berharap someday akan ada pria untuk perkara mencintai dan dicintai, sebagai apa pun pria itu, mulai dari pacar, TTM-an, HTS-an, suami, selingkuhan... Tapi di saat yang sama kamu malah mempropagandakan pemikiran bahwa pria adalah makhluk tercela dengan segala sifatnya, mulai dari gemar bikin kecewa, sumber air mata (no man no cry), gak berguna, PHP, dan lainnya yang-parahnya-pernyataan itu berupa generalisasi. Pikir deh baik-baik: dengan sikap kamu yang begitu terhadap pria, apa kamu akan mendapatkan mereka? I don't see any chance for you having one.... Kurang lebihnya searah dengan ungkapan: jika kamu mau menikah, tapi di pikiranmu masih ada pilihan untuk tidak menikah, maka kamu akan sulit untuk bisa menikah, atau bahkan bisa jadi tidak menikah (kamu kan yang membuat pilihan itu 'enabled' sehingga bisa diakses). Atau, simpelnya, jika kamu mau lulus sarjana 4 tahun, tapi di dalam benakmu masih ada pilihan untuk lulus lebih dari 4 tahun, yg ada kamu bakal lulus lebih dari 4 tahun. Percaya deh, yg satu ini udah terbukti di minimal dua orang. Kalau kamu bersikap like there's no other choice, effort kamu pasti gede banget untuk mencapai tujuan itu. Tapi selama opsi lain masih berstatus 'enabled', kamu gak akan fokus ke tujuanmu. Bahkan mereka yang fokus aja bisa 'terpaksa' gagal, apalagi kalo gak fokus. So, kalo kamu ingin 'punya' pria sebagai 'tambatan hati', tapi di sisi lain kamu mencela-cela mereka dan berpikir kamu gak butuh mereka, percaya deh kamu gak akan dapetin pria mana pun, satu orang pun! Lebih aneh lagi karena kamu gak konsisten. Giliran nyadar ada cowo yang naksir kamu, flirting, tetep aja kamu menikmati itu kan: diomongin ke temen-temen, minta di-ciye-in juga, blow up gosipnya juga, dan bahagia juga tuh mengetahui ada yang suka. Mestinya kalo kamu memang 'pembenci pria', ya gak usah seneng-seneng kalo ada yang naksir. Itu seperti kamu membuang sampah ke dalam tongnya, kemudian kerap kali kamu mengambilnya kembali hanya untuk dibejeg-bejeg, diunyel-unyel, dicela-cela, trus dilempar lagi ke tong sampah, dan setelah itu kamu tertawa-tawa senang. Aneh kan? Waras gak tuh? Kalo dikecewakan sama satu orang, ya kecewanya sama orang itu aja dong, ga usah pake statement generalisasi begitu. Kamu dikecewakan sama satu orang, bukan berarti orang kedua dan ketiga yang kamu temui akan sama kan. Bahkan kalo pun kamu dikecewakan sama 1000 pria, bukan berarti pria ke-1001 yang kamu temukan akan sama dengan 1000 sebelumnya kan? Owh, atau lebih tepatnya: kalo kamu bisa dikecewakan oleh (sampai) 1000 pria (ini bahasa lebay untuk fakta seringnya kamu dikecewakan), mestinya kamu yang introspeksi diri. Jangan-jangan kamu sering kecewa karena ekspektasimu terhadap makhluk bernama pria itu terlalu tinggi dan nggak lazim. Ckckck, hidup di mana, Neng? Ini adalah salah satu sikap yang berlebihan ketika kamu patah hati atau kecewa, dan yakinlah bahwa Allah gak pernah suka sesuatu yang berlebihan. Kamu nangis berkepanjangan tanpa sungguh-sungguh berusaha untuk menghapus air matamu, itu aja udah cukup nyebelin bagi Allah. Kamu kecewa bertubi-tubi tanpa usaha dari dalam dirimu sendiri untuk mengobati kecewa itu (alih-alih nyalahin dan mengutuki dia yang "kamu anggap" mengecewakanmu), sungguh menyebalkan deh. Berdo'a sih ya, minta dikuatkan sama Allah, tapi kayak nggak ada usahanya juga gitu. Ketika kamu sedih karena patah hati atau kecewa, kamu punya pilihan untuk menyikapinya dengan wajar atau berlebihan. Nangis boleh, marah boleh, tapi ya gak lantas nyerah gitu aja kalo ketemu pemicunya. Kapan mau kuat kalo dikit-dikit nyerah sama air mata, nyerah sama amarah? Sedih boleh, kecewa boleh, tapi ya gak berarti kamu jadi kehilangan akal sehat dong. Moso tiap kali kamu sedih atau kecewa, kamu berpikir gak sanggup menjalani hari esok, gak sanggup ngeliat dia lagi someday, gak sanggup melalui hari pernikahannya, gak sanggup kontak dengan relasinya. Apa segitu aja nilai hidup kamu: sebatas dia? Rugi tau. Lebih parah lagi, kalau gara-gara sedih atau kecewa, kamu sampe ngeluarin statement yang udah menyinggung Sang Pencipta: pria itu gak berguna. Helllooo, mereka diciptakan gak sia-sia dong. Kamu aja yang gak tau gimana atau gak mau 'menggunakan' mereka. Why harder fighting or living alone kalo nyatanya Allah ngasih kamu kemudahan untuk 'menjadi manusia seutuhnya' dengan adanya teman hidup bernama pria. Nyusahin diri aja sih! Satu hal lain, yang bikin sikap 'antipria' akan menjerumuskanmu ke dalam kondisi 'tidak mendapatkan pria', adalah karena pria senang dihargai (baca artikel). Pria senang dihormati. Dan, celaanmu kepada kaum mereka jelas merendahkan harga diri mereka. Kalau mindset-mu udah seperti itu, dan bahkan kamu pun menyebarluaskannya, mana ada pria yang mau sama kamu. Gak ada pria yang tahan diinjak-injak harga dirinya, dicela-cela, padahal Rabb mereka sendiri melebihkan mereka di atas kita, karena mereka pemimpin kita. So, jangan berlebihan deh. Independent, dengan tidak bergantung pada pria (atau siapa pun dalam hidupmu), tidak lantas memberimu hak dan keleluasaan untuk mencela mereka, untuk nginjek-injek harga diri mereka. Kalau pria itu sampah, maka wanita berperan sebagai salah satu dari dua pihak: pemulung yang hidupnya bergantung pada kualitas&kuantitas sampah, atau orang gila yang bermain-main gembira dengan sampah itu. Artinya, pria dan wanita akan selalu berdampingan dalam hidup. Jika salah satu merendahkan yang lainnya, maka dia juga merendahkan dirinya sendiri.
(8 Oktober 2011) Masih macet nih di jalan. But I'm sure ga akan bisa nyentuh lapak menulis gini kalo udah nyampe rumah. So, I take my time ya.... :) Jujur, tersiksa lahir batin sekali beberapa hari belakangan ini. Lelah, secara fisik dan mental. Fisik divorsir karena aktivitas yang memang banyak, mental ditempa sedemikian rupa hingga terasa sekali beban yang menghimpit. And, I feel almost there's no one here for me when I feel it. Semua sibuk dengan dirinya masing-masing. Marah? Ya mana bisa, karena bisa jadi orang bahkan lebih 'susah' lagi kondisinya daripada aku saat ini. Nggak bisalah ngarepin seseorang bisa selalu 'ada' untuk jadi tempat sharing untukku. They have their own business. Siapapun titelnya, mau bestfriend kek, orang tua kek, bos kek, siapa lah,, they're all humans.. They're all the same... Makanya, aku ga pernah suka dan mau terima kata-kata romantis yang bilang sahabat itu akan selalu ada buat kita. Nope, siapa bilang. Manusia itu terbatas. Aku nggak bisa menggantungkan kebahagiaanku pada satu pihak, atau satu oknum. Entah itu orang tua, saudara, keluarga, sahabat, anyone... Untukku, cukuplah mereka adalah orang-orang terbaik ketika mereka mampu memahamiku. That's it! Don't make any promises to me lah, just show me you understand me. That's even enough for me to believe that you love me.... :) Then, memang hanya Dia yang terbaik sebagai tempat muara segala sesuatu. Galau, gundah, gelisah, gak akan sembuh sama orang tanpa izinnya. Itu sebabnya aku merasa, memang sudah semestinya Dia selalu menjadi Yang Pertama dalam segala hal. Ada masalah dan butuh tempat curhat, Dia lebih dekat bahkan dari sahabat atau keluarga yang bisa kita dekati. Kenapa harus jauh-jauh... Kejadian lagi tuh.... Kali ini, kerasa ketika aku menunda 'curahan hatiku' kepada Allah, selain hanya sekadar kata singkat memohon petunjuk, atau bahkan sekadar mengingat, aku gak bisa menemukan solusi dan ketentraman batin, bahkan setelah berbicara dengan mereka yang biasa kuajak bicara. Tapi, ketika aku meluangkan waktu sejenak untuk 'mencurahkan isi hati' kepada-Nya, baru setelah itu aku memperoleh ketentraman lewat orang lain. He knows me very well, even more than what I can do. Alhamdulillaah... :) This short dialog tonight might be one of His great gift to me.... Hari ini dapat feedback dari orang yang lamaaaa tak jumpa, tapi kenal baik diriku. Dapet feedback tentang what should I do, tentang bagaimana seharusnya, dari sudut pandang dia yang sama sekali berbeda denganku. Ya, tetap saja tidak ada yang mutlak benar dari mereka, tapi salah pun tidak. I have my own filter of it lah... And I get much more than I want... :) Sekali lagi, Allah membuka mata hati dan logikaku tentang apa yang seharusnya dibenahi dalam diriku. Demi kebaikan hidup dan masa depanku. Itu dari seorang Kakak yang memang udah makan asam garam kehidupan, haha. Yah, sebagai seseorang yang lebih tua dan berpengalaman daripada aku, nasihatnya worthed... :) It's fun sometimes being a little sister.. Haha.. Sekali lagi Allah memberikanku pelajaran yang mungkin nggak kudapatkan di tempat lain. Pelajaran yang mungkin nggak kudapatkan sebagai seorang Kakak. Semua kejadian seperti ini benar-benar meyakinkanku, bahwa nggak ada orang yang lebih penting daripada lainnya. Kita harus menebar dan memelihara kasih sayang kepada semua, tanpa pilih-pilih.... Faktanya, akan ada waktu di mana kita membutuhkan dia.... Kata-kata mereka hari ini baik sekali untuk kucermati. Semua demi kebaikan diri dan masa depanku, juga demi kemaslahatan dunia-akhiratku. More than anything, it's something that makes me realize bahwa ternyata, there's someone out there who cares, to me.. It makes me feel that I'm being loved... 'cause everybody loves being loved.... :) Thanks a lot bro and sis... :)
(2 Oktober 2011) This is what I promise you, my sis.. Hope it'll be good to you.. :) Bismillaah... Ya, singkat cerita (baru mulai udah begini, apa2an cobaaa), he became the one to me. Tanpa izin dari logika, dia tidak akan masuk ke dalam hatiku. Memang dia gimana sih? Dia baik agamanya. Sejauh yang bisa kuketahui, sejauh yang mampu kunilai, dan sisanya Allah lebih tahu, dia baik agamanya. Actually, aku pun bingung, apa sih indikator seseorang itu disebut baik agamanya. Apa dinilai dari on time atau tidaknya dia shalat lima waktu? Atau dari frekuensi shalat malam dan shalat dhuhanya? Atau dari puasanya, sedekahnya? Atau dari titel "Rohis"nya de el el? Sayang sekali, semua itu tidak bisa kuterima. Entah kenapa, aku merasa, itu hanya tampak luar. Keshalihan sesungguhnya ada dalam hati. Ya tapi kita juga gak bisa menilai hati, kecuali ada indikator yang ditampakkan, dan apakah itu? Alhamdulillah, Azlan Sain pernah menjawab hal itu. "Indikatornya tuh dia istiqamah belajar Islam, istiqamah memperbaiki diri," kurang lebih begitu katanya. Dan si dia di cerita ini gimana? Ya, he is.... :) Itu kriteria pertama. Kedua, dia berjiwa leader (halah). Aku suka watak kolerisnya yang tegas, memegang teguh prinsipnya (yang memang berprinsip pada hal paling prinsip), dan bagaimana dia mempertahankan yang dia anggap benar dan mengarahkan tujuan. Itu modal penting untuk jadi suami(ku). Gimana ceritanya, seorang imam tidak punya visi dan tidak berdaya menjalankan misi untuk mencapai visi itu. Dan, dia punya itu... :) Ketiga, mmm apa ya... Fisik? Kriteria 'acceptable' menurutku tercapai sih, tapi secara wajah masih banyak yang lebih 'bening', Christian Sugiono misalnya :p. Usia, ya, dia lebih tua hampir setahun dari aku, sekitar 9 bulan mungkin ya. Pesona lainnya? Jujur, ini yang sebenernya bikin jiper.. Duh, masya Allah, pesona dunianya sebenarnya cukup bling-bling. Dia dari keluarga berpendidikan, status ekonomi keluarganya termasuk menengah ke atas, yang bisa dibilang beda denganku. Belum lagi dia memang punya prestasi akademik yang baik, sementara aku biasa aja, cuma 10 besar kelas (ehm). Plus, pesona dunianya juga nih, jago olah raga (sepak bola doang agaknya, hihi) dan jago main gitar. Dia suka musik... Okelah... :) Tapi ya, pernah juga satu tanya mengusikku: why him? Bukankah pria macam itu bejibun di dunia ini. Kalo kata dia sendiri, "Di UI aje bisa seratus orang yang kayak gitu..." (mane?? ;p) Apa dong? Ya, ini mungkin alasan terakhirnya. Somehow, dengan semua yang ada padanya itu, aku tsiqah (percaya) padanya untuk jadi imamku. Ya itu sometimes ga bisa dijelaskan secara eksplisit, kenapa kita bisa tsiqah ke satu orang tapi tidak ke yang lainnya, yang padahal mungkin juga punya kriteria seperti itu. That's what my heart says, after all those logical things.... :) Lalu apa yang membuat kecenderungan itu berbunga? Faktanya, he's my bestfriend, sahabatku. Kelakuanku yang hobi cerita dan curcol itu agaknya udah ada sejak dulu. Dan dia mengakui itu, "Putri seneng cerita ya...". Then, dia pun bisa dibilang tidak pernah tidak menanggapi ceracau-ceracau atau curcol-curcolku, even by sms yang sebenernya nggak penting, tapi dia respon. Itu sebenernya 'kriteria' gak penting sih ya, but somehow itu yang bikin aku nyaman sama dia. Sebagai teman dia solutif, dia lucu, dia menyenangkan. Oke diajak seru-seruan. Dia sahabatku, dan kami memang dekat. Meskipun gak pernah sampe level keluarga saling kenal ya... But ya, this is us.... Sejak aku tau bahwa tidak ada hubungan yang halal bagi pria dan wanita selain pernikahan, kecenderunganku kepada pria adalah untuk menikah. So, ada kriteria-kriteria prinsip yang memang harus terpenuhi. Then, when I found him, gak hanya niat yang ada, but I also built my dreams, with him, as his wife... Aku mengkhayalkan, dan mungkin tanpa sadar mempersiapkan diri untuk suatu hari nanti memiliki keluarga dengannya. Sikap kepada anak-anak kami, impian-impian duniawi kami, visi-misi rumah tangga kami, dan lainnya. Dunia kecil kami tergambar (nyaris) sempurna dalam benakku, diiringi dengan do'a dan harapan, serta usaha yang bisa kulakukan sebagai diriku. Impian utuh itu mungkin yang membuatku 'kebal' dari banyak pria selama menantinya. I think I've had a perfect dream, and I still have chances to try. Aku berdo'a dan menanti, nyaris tanpa kelabilan. Ya, krn aku yakin, bahwa aku memang ingin menikah dengannya. That's what I thought, until those days come... Hari-hari yang sebenarnya pasti akan datang, kecuali aku meninggal lebih awal. Hari-hari di mana akhirnya dia memutuskan untuk menikah. Dia memenuhi tekadnya untuk menikah muda, usia 22 tahun, setelah selesai menempuh pendidikan sarjana. After all days I'm wondering how this story ends, then this is it. Episode-episode terakhir kisah ini dimulai saat-saat di mana aku mengetahui bahwa finally dia memutuskan untuk menikah. Lucu, kejadian itu berawal dari seorang teman yang menanyakan padaku, apakah aku tau dia mau nikah sama siapa. Saat itu aku heran, hey ada apa ini, tidak mungkin dia bisa serta-merta bertanya begitu kalau bukan karena ada 'informasi'. Ya, benar saja. Seorang senior yang menanyakan perihal kesiapannya, kemudian menghubungiku dan menanyakan kapan aku lulus. Aku menjawab. Ternyata, range waktu lulusku di luar dari kesanggupan yang bisa dia terima, tapi dia belum tau tentang niat baikku saat itu. Kejadiannya begitu cepat, yang akhirnya, memang dia tidak punya niat yang sama terhadapku. Then there comes a time, when we finally chat, being honest to each other. Maap ya, ga bisa kujelaskan dengan gamblang karena ini public area :) Intinya, dari situ dia akhirnya tau bahwa selama ini aku memang punya kecenderungan ke dia, dia taunya cuma sekadar ada senior yang menawarkan aku saja. Dan, aku pun tau bahwa alasan utama dia menolakku bukan semata persoalan kapan lulus, tapi lebih karena dia telah punya kecenderungan ke orang lain dan saat itu sedang diusahakan untuk berproses. Itu alasan yang tidak dia katakan kepada senior kami itu. Awalnya aku memang merasa tidak perlu ada pembicaraan perihal itu dengannya. Semua berakhir, sudah. Tapi semua terjadi dengan mudahnya, begitu saja kami membicarakan semuanya dengan jujur. Dia pun jujur, dan akhirnya menanyakan (mengkonsultasikan) kegundahan hatinya, "Kalo nanti ternyata ga jadi, gimana cara ngatasinnya? Secara dirimu udah pengalaman," kurang lebih itu katanya. Well, jujur nih, aku sebenernya ga tau gimana. Kok bisa ya, udah segitu jatohnya dari impian, masih bisa ngobrol becanda sama dia saat itu. Even ga cuma saat itu saja. Di lain-lain waktu sebelum dia menikah pun kami masih sering berkomunikasi (maaf nih ya sama sekali ga ada maksud membanggakan hal ini lo, but that's happened). Sekadar komunikasi dengan sesama teman, dia pun saat itu masih ada hal-hal yang harus diselesaikan terkait orang lain juga, dan dalam beberapa hal dia butuh bantuanku serta aku pun butuh bantuannya. Sedihkah aku? Honestly, itu adalah moment yang indah bagiku. Bukan karena kebersamaan atau berbagai chat yang kita lakukan, tapi karena finally ini terselesaikan, pahit tapi indah. Juga karena I have nothing to regret. Aku memilih dan menanti orang yang tepat, berusaha sebisa yang mampu kuusahakan, dan setelah itu yang tersisa hanyalah variabel yang tak terkontrol. Ketika kita dihadapkan pada variabel tak terkontrol dalam usaha kita, kita hanya bisa mengatasinya dengan do'a. Memang, bahkan setelah itu pun aku MASIH ada kemungkinan menikah dengannya. Ya itu tadi, berdo'a kepada Allah semoga aku bisa melewati variabel tak terkontrol itu dan takdirku adalah dengannya dunia-akhirat. Tapi, jujur, setelah semua kejujuran kami itu, aku gak tega kalau harus berdo'a agar Allah jadikan dia denganku. Aku punya hak untuk berdo'a seperti itu, tapi rasanya itu tidak kugunakan. Ya, dia punya kecenderungan kepada orang lain dan ingin menikah dengan orang itu, sama bukan posisinya dengan aku ke dia? Gimana coba rasanya kalo aku malah berdo'a berlawanan dengan harapannya? Aku gak tega.... Dia terlihat begitu galau, khawatir, "Gimana nih ya kalo ternyata begini begitu...," itu katanya. "Dulu ada temen yang ditolak, baru bisa sembuh dua tahun...," dia cerita ke aku. Kasian kan.... Itu mungkin masih belum seberapa, karena meski aku tidak secara spesifik berdo'a agar dia jadi denganku, terselubung jauh di dasar hati aku masih berharap. Tapi harapan itu tidak seindah dulu, karena waktu terus berjalan dan dia masih berproses dengan calon istrinya. Kadang aku nangis, tapi di lain waktu aku bisa tersenyum lega, bahkan menyikapi patah hatiku dengan sumringah. Aku ingat, penolakan via seniorku itu sampai kepadaku di suatu malam yang melelahkan, setelah pulang dari kampus. Sampai di rumah sekitar jam 11-an malam, aku shalat isya, dan setelah itu aku minta waktu kepada-Nya untuk menangis sebentar saja. Dan, He gave me that cry time, hanya sebentar. Besoknya aku masih harus ujian statistik dan menjalankan amanah sebagai Rakor SALAM. Life must go on and I have to be strong... But how strong?.... Segera saja akhir Mei datang, dan tanpa persiapan lebih, dia mengumumkan bahwa dia udah lamaran. Hatiku mencelos.... That day will come, even too sooner than I expected. Hari-hari setelah itu adalah cukup padat bagiku. BTA, sebagai binglas dan juga pengajar memenuhi hari-hari menuju walimahnya. Tanggal telah diumumkan. Guru-guru di SMA kami telah ramai membicarakan, tidak ketinggalan pula di BTA.... Hari Senin pagi itu Mbak Upik berbisik di telingaku, hanya menyebutkan tanggal pernikahannya dan nama calon istrinya. Aku mengiyakan dan Mbak Upik merangkulku. Aku menangis, singkat dan spontan... #haduuh yang nulis berkaca-kaca nih... Di hari-hari berikutnya aku merasa lebih 'menikmati' patah hatiku. Kadang aku berkelakar tentang hal itu (eeeyyy jeeeng aku patah hati looo *tingting #iyakaleee). Sekadar menghibur diri sendiri sebenarnya. Yah, siapa lagi yang bisa menghibur, haha, karena teman-teman yang tau kisah ini bahkan turut bersedih dan prihatin (thanks ya temans...). Itu moment yang berat sebenarnya. Ada kalanya ketika aku sendiri aku menangis. Setiap hal sepele yang membuatku teringat akan dia membuat hatiku teraduk-aduk, sering hingga meneteskan air mata. Mau naik kereta berangkat ke kampus, bisa nangis sendiri di stasiun. Menginjakkan kaki di kota Depok, rasanya sendu sekali, karena kota Depok udah serasa punya dia. Belum ketika teman SD atau SMP-nya menanyakan, "Eh si Itu mau nikah ya.." Thanks for brightening my day... Denger lagu yang pas dengan jeritan hati yang broken, nangis. Lebih-lebih karena ada beberapa lagu teman galau zaman dahulu, yang kalau denger lagu itu keinget dia. Masya Allah.... Bahkan, lagu-lagu BSB yang muncul pada moment-moment patah hati itu, sampai sekarang masih berhasil membangkitkan kembali rasa perih yang terasa saat itu. Undangan itu pun sampai ke aku. Ikhlaskah aku dengan semua itu? Insyaa Allah ikhlas, meski tidak mudah. Aku sudah bisa tersenyum lega, meski kadang masih menangis. Dan, aku memutuskan untuk datang ke pernikahannya. I have no reason why I shouldn't come. Di hari pernikahannya, aku datang dengan sahabatku. Semua biasa saja. Bahkan di pestanya pun aku sumringah dan tertawa-tawa. Aku bercanda dengan dia, karena betapa dia keliatan canggung. Haha. Tapi, jujur saja, aku merasa tanganku gemetar sepanjang aku berada di pesta pernikahan itu. Jantungku berdebar begitu cepat. Aku sendiri gak tau kenapa. Dan kata temenku, "Mungkin alam bawah sadar lo masih belum bisa terima itu..." mmm, masa sih?.... Pulang dari pesta itu, aku dan banyak teman lainnya jalan-jalan. Nonton Shrek 4 bareng. Bersenang-senang. Still after that I feel like I'm losing someone. But I'm not crying out loud... Alhamdulillah... Bahkan, jujur, sekarang jika aku ingat dia, somehow I could feel my tears down on my face. But, the fact is I'm moving on... :) My Dear Sister, mungkin memang kisah itu tidak terlalu menggugah ya. But the fact is we are the same. Or even sometimes I think I'm too young to this, untuk mengalami kenyataan bahwa aku ditinggal nikah dengan seseorang yang telah kunantikan bertahun-tahun lamanya. Sekarang, all I can tell you is I even never know for sure, how can I fix this. Kok bisa sih aku tahan melewati semua ini. Kok bisa sih aku udah biasa aja bahkan dengan dia yang mematahkan hatiku, dengan memilih orang lain. Orang-orang menanyakan, "How?" tapi aku sendiri sebenernya gak ahli dalam menjawab itu, karena aku sendiri amazed kok bisa ya aku gak berat melepas dia. Gak berat? Masa sih... Buktinya aku pernah menangis karena hal itu kan.... Jawaban yang terbaik dari pertanyaan "bagaimana mengatasinya" adalah bahwa Allah makes it easier to me. Apa pun caranya, tapi nyatanya Allah yang mudahkan aku untuk melewati semua itu. So, Sister, berdo'a dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar kita mampu lewati ini. Yakin, bahwa Allah memberikan cobaan tidak melebihi kesanggupan kita. Bukan bermaksud kuliah rohani ya, tapi bener itu yang aku rasakan. Hal itu berat sekali untukku, bahkan mungkin dampaknya masih terus ada hingga sekarang. Ketika impian bersamanya hancur, aku merasa labil luar biasa, bahkan sekarang: coba liat, gimana aku dengan orang-orang baru yang kutemui setelah dia. Labil, karena aku tidak hanya kehilangan someone to love, tapi impian masa depan yang udah terbangun juga runtuh total. Sometimes it feels like I lost my dreams, membuatku merasa entah apa lagi tujuanku yang tersisa. Pernikahan dan rumah tangga idaman, buyar. Ya, it's hard for me karena impian yang telah kubangun selama ini, yang membayang-bayangi hariku, hancur seketika. It makes me upset dan kehilangan arah. Aku jadi nggak lagi paham apa yang kuinginkan, seperti apa sosok yang kuharapkan. Tapi, hikmahnya adalah, ternyata memang tidak tepat ketika kita menjadikan si dia sebagai standar harapan kita. Tidak tepat jika kita mempersiapkan diri menuju pernikahan dengan si dia yang telah terdefinisikan. Bukan berarti kalo sekarang udah ada kecenderungan sama orang itu salah ya. Yang salah adalah ketika kita menumpukan mimpi dan tujuan kita ke dia, mempersiapkan diri standarnya "dia". Padahal seharusnya kita melakukan semua itu secara independen, tanpa memasukkan "dia" ke dalamnya. Memperbaiki diri ya optimal saja, tanpa harus mematok batasan "kufu' dengan dia". See, that's my mistake. Ketika patokannya hilang, hancurlah semua itu. Berat bagiku membangun semua itu lagi. And Allah shows me that I'm wrong. Mestinya kecenderungan yang ada tidak membuatku membatasi diri seperti itu, apalagi hingga menumpukan impian ke dia. So, kalau dibilang baiknya gimana, yang terbaik adalah sungguh-sungguh memohon kepada Allah, dengan tulus, agar Dia berikan kekuatan agar kita mampu menghadapi semua ini dengan tegar. Agar jangan sampai sedih ini jadikan kita lalai, zhalim terhadap diri atau orang lain, dan melakukan sesuatu yang akan merugikan diri sendiri. Karena, ketika kita tidak mampu, hanya Dia yang mampu... Tapi, sertakan kepasrahan dalam berdo'a... Pasti ada alasan kenapa kita gak bisa menerima sesuatu, temasuk kenyataan pahit itu. Entah apa alasannya, hanya Kakak yang tahu. Tapi, kalau alasan itu masih membuat kita berharap "bisa" bersamanya, menghalangi kita untuk melepas dia, baiknya itu dihilangkan. Aku bisa melepas dia dan pasrah, karena aku merasa there's nothing more that I can try. Jangan turuti sesal yang ada, jangan turuti logika yang mengatakan "Semestinya bisa begini atau begitu, masih ada kemungkinan begini atau begitu". Jangan turuti juga hawa nafsu yang membuat kita binasa, yang membuat kita memburu semua hal yang sebenarnya tidak akan mengubah apa pun. Kakak lebih tau, apa yang membuatmu sulit pasrah, dan please buang itu jauh-jauh, supaya do'a kita lebih tulus, memohon agar Allah berikan kekuatan menghadapi semua itu. Berat mungkin, karena he's the best one, or you might say he's your true love... Aku terlalu dini jika memvonis dia adalah cintaku. Tapi memang, aku belum pernah menginginkan seseorang seyakin menginginkan dia, terlebih karena logika dan hatiku pun terarah sepenuhnya ke dia, tidak bertolak-belakang. Rasa yang ada pun bukan dibilang kemarin sore, tapi bertahun-tahun lamanya... But, we can get over it, just believe it. Or, if we're not sure we can, just believe He can. He always can. All we have to do is just behave well for Him, get close to Him, and ask Him to protect us, protect our hearts. Tapi, Kak, Allah akan lakukan itu hanya jika kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Dia, untuk menyelesaikan semua ini. Menyerahkan diri dengan patuh kepada-Nya, mendekati Dia dengan cara yang Dia sukai. Aku datang ke walimahnya karena menghadiri undangan itu wajib jika tanpa halangan syar'i, dan tidak ada pahala kebaikan yang melebihi pahala yang wajib bukan? So, hadir saja, penuhi kewajiban kepada-Nya, hanya karena Dia saja. Niatkan, lafalkan dalam do'a, "Rabb, aku lakukan ini karena Engkau saja". Dan biarkan Dia melindungi kita, sebagai balasan, pahala kebaikan karena kita menjalankan kewajiban kepada-Nya. Biarkan pahala kebaikan itu berwujud apa pun bagi Kakak, mulai dari ketentraman batin, kekuatan, hingga pengganti yang lebih baik. Allah tidak akan sia-siakan itu. Bukan sekadar "menang dari diri sendiri" akhirnya, apalagi "menang dari dia dengan bersikap tahan banting". Bagiku, semua ini terjadi memang semata karena Allah mau kita melibatkan Dia. Dia buat kita merasa tidak lagi sanggup menanggung beban yang ada, supaya kita sadar bahwa ada Dia Yang Mahakuat dan menguatkan. Sekadar supaya kita minta kekuatan kepada-Nya dengan kerendahan hati. Karena, segala usaha kita menguatkan diri, mulai dari melarikan diri, block Facebook, memutuskan kontak, dan lainnya, nggak akan berhasil tanpa izin-Nya. Pun sebaliknya, tanpa harus membuang tenaga dan pikiran untuk melakukan semua itu, dengan kuasa-Nya kita pasti kuat menghadapi kenyataan pahit itu. 2 Oktober akan segera datang, tapi juga segera pergi. It will be just passed by. Semoga kita nggak merugikan diri.... It will be just passed by, like 5 June. And we will survive even stronger than before. Asal kita mau kuat dan dikuatkan. Start from: jangan turuti emosi untuk berkata-kata yang desperado. Jangan turuti emosi dengan bayang-bayang menangis di depan umum. Jangan turuti emosi untuk terpaku pada bayang-bayangnya, atau harapan akan dirinya lagi. Jangan menyendiri jika itu membuat kita ingat dia, tapi jika harus sendirian pastikan kita sendiri dengan kesibukan (tugas akhir?). I have no more words to say... I'm praying for you, may Allah makes you strong, Sis... Laa hawlaa wa laa quwwata illaa billaah... "I'm a big big girl in a big big world It's not a big big thing if you leave me But I do do feel that I do do will miss you much Miss you much..." (Just missing, no more sadness, no more madness, no more useless time.... They will be just memory, and another better will come soon...)  | Guestbook | |
 |  di klik gambarnya ya.. |
 | Selamat kepada para multiply'ers mipa pemenang dalam salah satu kategori dalam acara workshop keilmiahan MII. Terus berkarya.. |
 | assalamu'alaikum. wah pupuh tulisannya banyak banget. |
 | assalamu'alaikum. wah pupuh tulisannya banyak banget. |
 | Alaikumsalam wr wb salam kenal jg anggita :D |
 | Salam kenal dr zafan ya :) |
 | Assalammualaikum... Selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin...................................... |
 | put... smangat ku tak kunjung datang... gimana caranya bisar bisa jemput ya??
i only have one week left... |
 |
syrch wrote on May 16, '08 assalamualaykum.. numpang mampir ya.. |
 | aslm.....hey ukhti metkenal ya.... |
 | assalamualaikum.. mba...salam kenal juga :) |
| |